Bagaimana Hukum Melaksanakan Qurban Menurut Empat Madzhab

Bagaimana Hukum Melaksanakan Qurban Menurut Empat Madzhab

Pembahasan hukum atas kewajiban berkurban mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian umat muslim. Sebab hal tersebut mungkin sudah sering menjadi bahasan dalam tausiah-tausiah baik dalam majelis ilmu, siaran televisi maupun media-media lainnya. Seperti telah kita ketahui sebelumnya pengertian dari qurban adalah penyembelihan hewan kurban dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dalam pelaksanaannya hukum dari berqurban adalah sunnah muakkadah, tentunya dilapangan setiap orang memiliki kondisi dan latar belakang yang berbeda, sehingga tidak semuanya bisa melaksanakan sunnah yang diutamakan tersebut. Kemudian bagaimana islam menyikapi terkait pelaksanaan kurban dari berbagai aspek.

Berikut adalah hukum pelaksanaan qurban menurut empat madzhab yang ada dalam islam.

Madzab Syafi’i

Hukum qurban menurut Madzab Syafii adalah sunnah muakkad atau sunnah yang harus diutamakan. Akan tetapi, hukum ini aku beralih menjadi makruh pada kondisi orang yang telah mampu, tapi tidak menjalankannya.

Madzab Maliki

Berkaca dari pandangan ulama dari Madzab Maliki, hukum qurban yang diyakini adalah sunnah muakkad atau sunnah yang harus diutamakan. Namun, hukum ini akan aku beralih menjadi makruh pada kondisi orang yang telah mampu, tapi tidak melaksanakannya.

Madzab Hanafi

Hukum qurban menurut pandangan para ulama Madzab Hanafi adalah wajib dilaksanakan satu kali setiap tahunnya. Namun, ada beberapa ulama dari madzab ini yang berpendapat bahwa hukum dari qurban ini adalah sunnah muakkad atau sunnah yang harus diutamakan.

Madzab Hambali

Menurut para ulama Madzab Hambali, hukum qurban bisa menjadi wajib dan sunnah tergantung objek yang dikenai hukum. Madzab ini mengatakan hukum berqurban bagi orang yang mampu adalah wajib dan berubah menjadi sunnah bagi yang kurang mampu.

Hukum Berqurban secara Patungan

Hukum berqurban secara patungan adalah tetap diperbolehkan dengan catatan tetap memenuhi syariat qurban yang benar. Namun, satu jenis hewan qurban memiliki jumlah maksimal orang tertentu. Misal satu ekor kambing atau domba hanya cukup untuk satu orang dan sapi untuk tujuh orang.

Jadi, ketika seseorang tidak mampu membeli seekor sapi , maka orang tersebut bisa patungan dana dengan maksimal 7 orang. Dan orang tersebut memiliki hak atas qurban tersebut dan bisa berniat qurban atas diri sendiri atau keluarga yang bersangkutan.

Hukum Berqurban dengan Arisan atau Tabungan Qurban

Qurban merupakan ibadah yang memerlukan kecukupan harta dan tidak semuanya bisa memenuhinya dalam waktu dekat, dengan demikian ditengah-tengah masyarakat munculah istilah arisan atau tabungan qurban yang dijalani oleh berbagai kalangan masyarakat, tujuannya yaitu untuk mempermudah atau meringankan seseorang dalam melaksanakan ibadah qurban.

Adapun Sistem ini dilandaskan dari hukum diperbolehkannya qurban dengan cara patungan. Beberapa ulama juga menyebutkan bahwa utang untuk qurban seperti halnya arisan adalah benar dan diizinkan.

Namun dalam menjalankannya, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh peserta arisan qurban, yaitu mampu dan sudah siap untuk membayar dana dengan nominal yang telah disepakati, artinya peserta dari arisan tersebut tidak merasa keberatan dan ikhlas dalam menjalankan arisan tersebut.

Adapun untuk target dana yang terkumpul disarankan melebihi estimasi harga hewan qurban yang ada, sebab hal itu dilakukan untuk mengantisipasi naiknya harga hewan qurban menjelang hari raya idul adha.

Hukum Qurban Karena Nadzar

Nadzar adalah janji seseorang untuk melakukan sesuatu apabila seseorang telah mencapai sesuatu, misal jika si A berhasil mendapatkan sebuah proyek maka ia akan bersedekah uang senilai satu juta. Dalam hal ini seseorang wajib untuk melaksanakan apa yang telah dinadzarkannya.

Seperti halnya nadzai-nadzar lainnya, hukum berqurban atas nadzar adalah wajib untuk dilaksanakan. Dalam hal ini ada dua aturan penting dalam pelaksanaan qurban atas nazhar yang harus diketahui.

Pertama, Menurut pendapat ulama Madzab Syafii, Madzab Hanafi, dan sebagian dari Madzab Hambali mengatakan bahwa pelaku qurban atas nadzar tidak diizinkan memakan daging dari hewan qurban tersebut. Jadi, keseluruhan daging qurban harus dibagikan kepada orang-orang yang berhak.

Kedua, Sesuai dengan pendapat para ulama Madzab Syafii dan Madzab Hambali apabila hewan qurban atas nadzar tersebut berkembang biak, maka anak dari hewan tersebut juga wajib dijadikan hewan qurban.

Setelah mengetahui hukum atas kewajiban berqurban, apakah sahabat semua memiliki niat untuk berqurban ditahun ini? nah sahabat semua bisa berqurban dengan berbagai kemudahan di Yayasan Rahmatan Lil’Alamin Jakarta Timur dan insyaallah daging hewan qurban akan disalurkan kedaerah-daerah lain yang berhak dan membutuhkan daging qurban tersebut.

Leave a Reply