Berqurban Tanpa Saksikan Penyembelihan, Bagaimana Hukumnya?

Berqurban Tanpa Saksikan Penyembelihan, Bagaimana Hukumnya?

Secara praktik esensi dari pelaksanaan ibadah kurban adalah mengalirnya darah/ hewan yang disembelih atau yang dikenal dengan sebutan iroqotuddam. Namun demikian, perlukah penyembelihan hewan kurban disaksikan? Bagaimana jika penyembelihan hewan kurban itu tidak disaksikan pengurban? Simak penjelasannya dibawah.

Sudah menjadi hal yang lazim ditengah-tengah masyarakat bahwa pelaskanaan ibadah kurban dari mulai pembelian hewan qurban sampai ke penyembelihannya diserahkan secara langsung kepada panitia kurban atau yayasan sosial. Namun, ditengah mewabahnya pandemic covid-19 ini ada pembatasan sosial yang mengakibatkan semuanya harus menjaga jarak dan menghindari kerumunan, sehingga dalam proses penyembelihan hewan kurban si pengurban memiliki kemungkinan yang kecil untuk dapat menyaksikan proses penyembelihannya secara langsung.

Berbicara tentang hukum seseorang pengurban yang tidak bisa datang dan ikut serta menyaksikan penyembelihan hewan kurbannya, dijelaskan dalam buku fiqih qurban persepektif madzhab syafi’I menyebutkan bahwa para ulama madzhab syafi’I menganjurkan kepada para pengurban yang telah mewakilkan penyembelihannya untuk ikut serta menyaksikan proses penyembelihan hewan kurban.

Selanjutnya para ulama madzhab syafi’i juga berpendapat bahwa menyaksikan penyembelihan hewan kurban bagi para pengurban hukumnya sunnah. Dan karena sunnah jadi tidak ada kewajiban bagi si pengurban untuk datang menyaksikan penyembelihan jika sedang ada halangan atau keperluan lain yang lebih penting.

Artinya jika seorang pengurban tidak bisa hadit atau ikut serta menyaksikan penyembelihan hewan kurban maka kurbannya tetap sah dan ia tetap mendapatkan pahala apa yang telah ia niatkannya.

Adapun untuk masa pandemic Covid-19 yang terjadi saat ini, apabila kondisi si pengurban memungkinkan untuk datang menyaksikan serta tempat penyembelihan juga tidak memiliki potensi untuk menimbulkan madharat, para ulama menganjurkan si pengurban untuk datang menyaksikan penyembelihan hewan kurbannya.

Dalam buku Al-Majmu karangan Imam Nawawi dijelaskan bahwa hukum sunnah untuk menyaksikan prosesi penyembelihan hewan kurban didasarkan kepada hadits rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri sebagai berikut.

“Berdirilah (wahai Fatimah) untuk kurbanmu dan saksikanlah. Sesungguhnya tetesan darah yang pertama bisa mengampuni dosamu yang telah lalu.”

Sunnah Menyembelih Sendiri Hewan Kurban

Termasuk amalan sunnah jika seorang sohibul qurban menyembelih ehwan kurbannya sendiri, mungkin selama ini kita melihat banyak orang yang mewakilkan penyembelihan hewan kurbannya kepada tukang jagal ataupun yayasan sosial, namun jika seorang pengurban mampu dan tidak ada udzur yang menghalangi, sebaiknya ia menyembelih hewan kurbannya dengan tangan ia sendiri.

Adapun untuk teknis penyembelihannya si pengurban bisa datang langsung ke tempat ia menitipkan atau mewakilkan pengurusan hewan kurbannya atau ia bisa melakukannya sendiri ditempat tinggalnya. Menyembelih hewan kurban sendiri merupakan amalan yang telah dicontohkan oleh rasulullah saw. seperti yang terdapat dalam sebuah hadits sebagai berikut,

”dari Anas dia berkata; Nabi saw. berkurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih dominan dibanding warna hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelih domba tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah dan bertakbir dan meletakkan kaki beliau di atas sisi leher domba tersebut.” (H.R.Bukhari, juz 17 hlm 267)

Ada banyak kondisi yang mengakibatkan seseorang tidak bisa menyembelih hewannya sendiri, misalkan ia alergi dengan bau hewan dan tidak bisa melihat darah mengalir serta keadaan-keadaan lainnya seperti yang terjadi saat ini yakni mewabahnya pandemic covid-19 maka mewakilkan penyembelihan hewan kurban adalah cara yang terbaik guna menghindari madarat yang jauh lebih besar.

Leave a Reply