You are currently viewing Hukum Qurban Menurut Empat Mazhab

Hukum Qurban Menurut Empat Mazhab

Qurbanku.id, Hukum Qurban Menurut Empat Mazhab – Qurban memiliki makna menyembelih atau memotong hewan pada hari raya Idul Adha dan hari tasyrik. Hari tasyrik ialah tiga hari setelah hari raya Idul Adha yakni 11,12, dan 13 Dzulhijjah.

Adapun hewan yang dapat dijadikan sebagai hewan qurban antara lain unta, sapi, dan kambing atau domba. Hewan yang hendak disembelih hendaklah hewan yang memenuhi syarat qurban dan sehat serta tidak cacat.

Kemudian, jika hewan qurban yang disembelih di luar batas waktu yang telah ditentukan, maka tidak dianggap sebagai qurban melainkan hanya sebatas sedekah biasa. Berdasarkan itu, penting sekali untuk memperhatikan waktu penyembelihan qurban agar sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Penyembelihan hewan qurban identik dengan kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dalam membuktikan ketaatan dan kecintaan beliau kepada Allah. Nabi Ibrahim AS pada saat itu dengan penuh keimanan, tanpa sedikitpun merasa ragu untuk menunaikan perintah Allah yang ia terima melalui mimpinya untuk menyembelih putra semata wayangnya Ismail AS.

Kisah Nabi Ibrahim tersebut sudah seharunya dijadikan sebagai ibrah atau pelajaran bagi umat islam dalam melaksanakan perintah Allah Ta’ala terutama perintah untuk berqurban.

Berkaitan dengan perintah berqurban, Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 34 sebagai berikut.

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS. Al-hajj: 34)

Selanjutnya, Allah SWT juga berfirman dalam QS. Al-Kautsar  ayat 2 yang artinya, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” Dalam ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan untuk berqurban setelah perintah sshalat, hal ini menandakan betapa pentingnya ibadah qurban.

Berkaitan dengan hukum ibadah qurban, terdapat perbedaan pendapat dari masing-masing ulama mazhab. Lalu bagaimana hukum qurban menurut empat mazhab? Simak penjelasannya dalam artikel ini.

Hukum Berqurban Menurut Empat Mazhab

Hukum Qurban Menurut Empat Mazhab

Dikutip dari dompetdhuafa.org, berikut adalah hukum menyembelih hewan qurban menurut empat mazhab.

1. Madzab Hanafi

Menurut padangan Mazhab Hanafi, melaksanakan ibadah qurban hukunnya wajib bagi siapa saja yang memiliki kemampuan secara finansial. Kemampuan secara finansial untuk berqurban menurut Mazhab Hanafi ialah ketika seseorang memiliki kekayaan minimal sebesar 200 dirham atau kekayaan harta yang dimiliki telah mencapai nisab zakat.

Adapun bagi seseorang yang telah memiliki harta berlebih, kemudian ia tidak menyembelih hewan qurban maka orang tersebut telah berdosa karena meninggalkan ibadah wajib. Hal itu berdasarkan hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah berikut.

“Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda: Barang siapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami.”

Disamping itu, ada beberapa ulama mazhab ini yakni Abu Yusuf dan Muhammad yang berpendapat bahwa qurban hukumnya sunnah muakkad, artinya amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk menyempurnakan ibadah.

Kemudian untuk hukuk berqurban lainnya menurut Mazhab Hanafi ialah hukum qurban bgai seorang musafir. Seorang musafir menurut pandangan Mazhab Hanafi tidak dianjurkan untuk berqurban. Kemudian bagi anak yang belum baligh, hukum berqurban menadi sunnah dan pembelian hewan diambil dari orang tua atau walinya.

2. Madzab Maliki

Menurut pandangan Mazhab Maliki, menyembelih hewan qurban hukumnya sunnah muakkad, namun hukum tersebut dapat berubah menjadi makruh bagi seseorang yang mampu berqurban namun tidak melaksanakannya. Makruh adalah hukum yang bernilai sebuah pelarangan, namun apabila dilakukan tidak mendapat konsekuensi dosa.

Menurut Mazhab Maliki, hukum berqurban berlaku apabila seseorang telah mampu membeli hewan ternak dengan uang yang didapatkannya dalam satu tahun, yang mana pembelian hewan qurban tersebut tidak mengganggu kebutuhan pokok dalam satu tahun.

Dalam padangan Mazhab Maliki, seseorang diperbolehkan membeli hewan qurban dengan cara berutang. Kemudian untuk anak yang belum mencapai usia baligh, hukum berqurban baginya sama seperti Mazhab Hanafi yakni sunnah dengan mengambil harta dari walinya.

3. Madzab Syafi’i

Menurut Mazhab Syafi’i, hukum berqurban adalah sunnah muakad dan cukup sekali berqurban dalam seumur hidup. Dalam pandangan Mazhab Syafi’i, seseorang dikatakan mampu untuk berqurban ketika memiliki harta lebih untuk membeli hewan qurban pada hari raya Idul Adha. Harta lebih tersebut ketika digunakan untuk membeli hewan qurban tidak mengganggu kebutuhan pokok hidupnya dan orang yang wajib di tanggung.

Kemudian, dalam Mazhab ini terdapat dua hukum melaksanakan qurban. Pertama, Sunnah Ain yakni sunnah qurban yang dilakukan secara perorangan. Kedua, Sunnah Kifayah yakni sunnah berkurban yang berlaku dalam satu keluarga berapapun jumlahnya, jika salah satu dari anggota keluarga tersebut ada yang berqurban, maka cukup untuk mewakili semua keluarganya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi berikut ini.

“Mikhnaf bin Sulaim berkata: “Ketika kami berkumpul bersama Nabi Saw, aku mendengar beliau berkata: Wahai para sahabat, untuk setiap satu keluarga setiap tahunnya dianjurkan untuk berkurban.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Turmudzi. Hadis Hasan Gharib).

Bagi seorang musafir, Mazhab Syafi’i berpendapat hukum qurban untuknya adalah sunnah. Kemudian untuk anak yang belum baligh hukumnya tidak disunnahkan.

Hukum qurban menurut Madzab Syafi’i adalah sunnah muakkad atau sunnah yang harus diutamakan. Akan tetapi, hukum ini aku beralih menjadi makruh pada kondisi orang yang telah mampu, tapi tidak menjalankannya.

4. Madzab Hambali

Menurut Mazhab Hambali, hukum beruqrban bisa menjadi wajib dan sunnah tergantung objek yang dikenai hukum. Hukum berqurban menjadi wajib bagi seseorang yang mampu melaksanakannya dan menjadi sunnah bila seorang muslim tidak mampu menunaikannya.

Baca Juga: Tiga Makna Qurban Bagi Umat Islam

Kemudian, Mazhab Hambali berpendapat jika seseorang bisa mengusahakan diri untuk membeli hewan qurban walaupun dengan cara berutang dan ia memiliki keyakninan bahwa ia mampu mengembalikan utang tersebut, maka dia dianjurkan untuk berqurban.

Kemudian untuk seorang musafir, hukum berqurban baginya adalah sunnah dan sedangkan bagi anak-anak yang belum baligh, tidak disunnahkan.

Meskipun terdapat persamaan dan perbedaan pendapat mengenai hukum qurban, ulama empat mazhab bersepakat apabila seorang muslim yang bernazar qurban, maka hukum qurban baginya menjadi wajib. Kemudian, jika tidak terpenuhi maka akan menjadi dosa.

Sahabat, ibadah qurban merupakan ibadah sunnah yang dilaksanakan hanya satu tahun sekali. Dengan demikian, jika kita diberi kemampuan berupa kecukupan harta untuk membeli hewan qurban dan menyembelihnya, ibadah qurban menjadi teramat sayang untuk dilewatkan sebab ibadah qurban dapat menjadikan kita lebih dekat dengan Allah.

Bagi sahabat ingin menunaikan qurban tahun ini, sahabat dapat berqurban di Yayasan Rahmatan Lil-Alamin Jakarta Timur yang insyaallah daging qurbannya akan disalurkan kepada anak yatim dan dhuafa di berbagai pelosok daerah.

Leave a Reply